Nats Alkitab: Matius 8:28-34 / Dua orang kerasukan disembuhkan

Mimbar Reformed Injili Indonesia, Melbourne.
Pengkhotbah: Pdt. Budy Setiawan

Kalau kita membaca perikop kita hari ini, akan ada orang-orang yang skeptik terhadap hal-hal yang dikatakan disini, khususnya peristiwa kerasukan setan. Namun, hal-hal yang bersifat metafisik, yang banyak kita dengar di Indonesia, sebenarnya juga semakin banyak pengikutnya di negara-negara maju. Menurut sebuah catatan*, di Amerika terdapat 10.000 orang paranormal penuh waktu dan 175.000 paranormal paruh waktu. Carrol Righter sering disebut sebagai paranormal yang paling terkenal dan paling sukses di Amerika. Dan seperti banyak hal lain, pekerjaan paranormal ini juga sudah dikomputerisasi. Perusahaan Time Pattern Research Institute, Inc. telah membuat suatu program komputer untuk memberikan 10.000 kata untuk jawaban horoskop dalam 2 menit. Mereka mempunyai target 10.000 pelanggan setiap bulan dan terus berkembang. Tanpa menyetujui semua kegiatan di atas, kita harus membaca dan mengerti perikop kita seperti apa adanya.

Hal pertama yang perlu kita perhatikan dalam peristiwa orang kerasukan setan ini adalah respon murid-murid di akhir peristiwa sebelumnya. Setelah danau diredakan, murid-murid dengan heran bertanya, “Orang apakah Dia ini..?” (ayat 27)

Ironisnya, jawaban dari pertanyaan ini seolah-olah muncul dari mulut setan: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?” (ayat 29) Panggilan setan terhadap Tuhan ini sungguh mengejutkan. Ironis. Murid-murid masih terheran-heran melihat kebijaksanaan Yesus dalam mengajar, kuasaNya dalam menyembuhkan orang sakit dan menenangkan badai. Setelah menyaksikan semuanya itu disingkapkan di depan mata mereka secara langsung, mereka masih juga bertanya, “Orang apakah Dia ini..?” Mereka masih bertanya setelah semuanya itu! Maka dari itu, ketika setan dengan lantangnya memanggil Yesus sebagai ‘Anak Allah’, ini seolah-olah mau menunjukkan bahwa setan lebih mengenal Dia dibandingkan dengan murid-murid-Nya sendiri; orang-orang yang dekat, yang telah mengikuti Dia dan melayani bersama-Nya ke mana-mana ternyata belum begitu mengenal siapa yang mereka ikuti ini. Sekali lagi, Yesus memakai kesempatan ini untuk membawa mereka ke dalam pengenalan yang lebih dalam. Pengenalan yang membawa kepada ketaatan pada Tuhan.

Apa bedanya setan dengan orang percaya? Kita orang Kristen tahu siapa yang kita sembah dan tahu hukum-hukum Tuhan. Ini tidak cukup. Setan-pun tahu ini semua. Setan memiliki pengertian yang tepat dengan memanggil Yesus sebagai ‘Anak Allah’, dan Yesus pun tidak menolak perkataan itu. Boleh dikatakan, setan memiliki teologi yang benar, tetapi sesungguhnya mereka tidak menyembah Kristus – inilah bedanya setan dengan orang percaya. Setan gentar dan gemetar menghadapi Tuhan, tetapi mereka tidak taat akan perintah-Nya. Bagimana dengan sikap hidup kita? Jangan sampai kita pikir kita tahu banyak, kita belajar teologi, baca Alkitab, kita lalu merasa diri hebat. Tentu saja memiliki pengetahuan yang benar sangatlah penting; kehidupan Kristen menjadi begitu melimpah melalui pengertian doktrin yang mendalam. Tapi kita salah apabila kita berhenti sampai di sini, di kepala.

Setan-pun tahu akan banyak hal. Ketika kita mengetahui dan mengerti, baiklah itu menjadi pengetahuan dan pengertian yang terpancar dalam hidup kita yang mengasihi Tuhan, yang memuliakan Dia, yang mengasihi sesama dan taat kepada-Nya. Inilah beda knowing God dengan knowing about God. Knowing God berarti adanya relasi pribadi dengan Allah, adanya persekutuan yang intim dengan-Nya. Dan ini boleh dibina dengan membaca FirmanNya, dengan berdoa kepadaNya dan hidup dalam ketaatan.

Mari sekarang kita meneliti bagian Alkitab hari ini. Yesus tiba di daerah orang Gadara. Ini bukanlah daerah orang Yahudi, karena ada ternak babi di situ (orang Yahudi tidak makan babi). Akan tetapi Tuhan Yesus datang juga ke situ, untuk menyatakan kuasa-Nya di antara orang-orang bukan Yahudi. Kehadiran Tuhan membuat iblis ketakutan. Mereka sadar siapa Tuhan itu dan akan kuasa-Nya: “Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

Kehadiran Tuhan akan menghancurkan mereka. Mereka sadar itu, tapi mereka masih mencoba untuk berdalih, “belum waktunya! – waktunya nanti akan tiba, tapi jangan sekarang!” Kata waktu yang dipakai di sini, adalah kairos – waktu ketika karya Tuhan dinyatakan. Dan iblis berteriak, “belum waktunya!” Dan di sini memang belum waktunya bagi Tuhan Yesus. Waktu yang tepat adalah nanti, di atas kayu salib. Itulah kairos. Dia datang ke dunia dan mati pada waktu Tuhan yang sempurna.

Ketika Kristus mati, di saat itulah iblis dihancurkan, dirantai – istilahnya di dalam kitab Wahyu, dibatasi pekerjaannya, meski iblis masih bekerja sampai sekarang ini. Dalam perikop ini, setan / iblis sedang merasuki dua orang. Jumlah setan yang merasuki mereka adalah 6000 (legion) banyaknya (Lihat Markus 5:1-20). Kerasukan membuat dua orang ini menjadi sangat berbahaya dan ditakuti oleh warga di daerah itu. Zaman sekarang ini, mungkin kita lebih jarang mendapatkan orang kerasukan. Tapi setan bekerja di dalam banyak hal. Mereka menyusup masuk ke dalam berbagai aspek dunia yang kelihatan biasa-biasa saja, untuk menipu kita.

Ketika setan berhadapan dengan Tuhan, mereka gemetar, bingung, kacau. Perhatikan teriakan-teriakan dan permohonan mereka: “Apa urusan-Mu dengan kami?.. Suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Tetapi Yesus meresponi mereka dengan satu kata, “Pergilah!” (Yunani—hupagette) Satu kata saja. Maka 6000 setan dengan serentak pindah ke dalam kawanan 2000 babi, dan babi-babi itu terjun mati ke dalam jurang. Di sini kita boleh diyakinkan lagi akan otoritas Tuhan terhadap segala sesuatu, termasuk atas kuasa setan, kuasa kegelapan. Kita perlu sekali lagi datang kepada Dia, memandang Dia, kagum dan gemetar. Tidak ada orang yang tidak gemetar bertemu dengan Tuhan! Seperti murid-murid gemetar ketika menyadari siapa Dia ini, biarlah kita sungguh-sungguh takut akan Dia. Bukan gemetar seperti setan, tetapi gemetar yang membawa kita ingin mengenal Dia lebih lagi, ingin berelasi, membaca Firman dan taat melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Menjalani hidup yang taat tidak selalu mudah. Tapi itulah jalan yang terindah yang boleh kita lalui. Tom Wright menulis, “You might follow Him, or you might be scared stiff of Him, but you couldn’t ignore Him. That is the Jesus we must follow today, the Jesus we must make known in the world.”**

Berikutnya mari kita meneliti tentang sikap warga kota Gadara ini. Biasanya, ke mana-mana Yesus pergi, orang-orang selalu menginginkan Dia untuk tinggal lebih lama lagi dan malah mengantar lebih banyak lagi orang-orang sakit kepada-Nya untuk disembuhkan. Tapi anehnya, warga kota Gadara justru mengusir Dia. Mereka mendesak Dia untuk pergi. Dan kata mendesak yang dipakai di sini adalah kata yang sama yang dipakai ketika setan-setan mendesak / meminta kepada Tuhan di dalam ayat 31. Setan meminta kepada Tuhan agar mereka boleh keluar dari orang dan masuk ke babi. Tetapi warga meminta supaya Tuhan keluar dari kota mereka. Sangat ironis!

Alasan warga kota mengusir Yesus mungkin karena Dia telah mengakibatkan 2000 ternak babi mereka mati. Dan apabila Dia lebih lama lagi tinggal di kota tersebut, bisa mengakibatkan kehancuran ekonomi. Bagi mereka nilai babi lebih penting daripada nyawa dua orang yang kerasukan. Warga memandang bahwa babi lebih penting daripada keberadaan Tuhan di kota itu. Lebih mementingkan harta daripada mengakui kuasa Tuhan atas setan. Inilah dunia ini.
Dan kita sebagai orang percaya tidak seharusnya terjebak di dalam alur pemahaman yang seperti ini. Tuhan Yesus membalikkan pemahaman mereka yang salah ini dengan mengorbankan 2000 babi ganti 2 nyawa manusia. Dia ingin mendobrak asumsi mereka dan menarik perhatian orang-orang

Melalui 2000 babi yang mati ini, Tuhan ingin mengingatkan kita akan hal-hal yang lebih penting dalam hidup. Dia ingin menarik perhatian kita agar jangan sampai kita terbawa oleh arus kehidupan kita. Hidup yang sibuk, yang terus kita jalani ini hari lepas hari, apabila kita teliti lebih dalam, sebetulnya tidak terlalu penting. Bukannya tidak penting, melainkan tidak terlalu penting bila dilihat dari sudut kekekalan. Apabila dibandingkan dengan hidup yang berfokus kepada Tuhan – yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi sesama sesuai perintah-Nya. Kadang-kadang kita tidak sadar menyibuki sendiri dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kekekalan.

Jangan sampai waktu kita habis, dan kita terlambat.
Sebagai kesimpulan, kita melihat ada dua hal ironis yang kita pelajari:
1. Jawaban dari pertanyaan murid-murid, “Orang apakah Dia ini?” datang dari sumber yang paling tidak disangka-sangka, setan. Setan mengenal Dia, dan menjawab Yesus adalah “Anak Allah!”
Jangan kita seperti setan, yang paham tentang siapakah Tuhan itu, akan tetapi tidak memiliki hati yang taat dan mau menyembah kepada-Nya.


2. Warga kota Gadara yang tidak bisa melihat Tuhan meski Dia ada begitu dekat dengan mereka, datang untuk membawa kesembuhan (menyembuhkan dua orang dari kerasukan setan). Mereka menyaksikan sendiri kebesaran Tuhan, tapi malah mengusir-Nya.
Jangan sampai penilaian kita sebegitu pendeknya seperti warga kota Gadara, yang memilih babi ketimbang Tuhan.

* Merrill Unger, Demons in the World Today.** Nicholas Thomas Wright, “Matthew for Everyone” (Westminster John Knox Press)

Ringkasan oleh: Elisa Soerjono Revisi oleh: Pdt. Budy Setiawan
Kembali ke list Ringkasan Kotbah
2007 © Mimbar Reformed Injili Indonesia, Melbourne. All Rights Reserved.

No comments: