TUHAN JESUS dan pemulung















Suatu saat, saya begitu saja berada di sebuah lapak, yaitu tempat para pemulung berkumpul dan menjual hasil pulungan mereka. Saya lihat beberapa pemulung sedang sibuk membersihkan sampah hasil pulungan untuk ditimbang. Mereka bekerja sambil bercengkerama dan tertawa-tawa.
Ketika hasil pulungan mereka sudah ditimbang dan uang sudah di tangan, wajah mereka berseri-seri. Mereka tidak menghiraukan lagi tubuh yang lelah, baju lusuh, dan wajah yang kotor penuh debu. Bagi mereka, jumlah yang
relatif kecil itu sudah cukup untuk membuat dapur mereka menyala.

Tiba-tiba saja mata saya tertuju ke salah satu sudut lapak itu. Dekat tumpukan kaleng dan kardus yang tersenggol sedikit saja dapat runtuh menimpa mereka, dua orang tampak sedang asyik bercakap-cakap. Ketika saya amati, saya terkejut. Tidak salah lihatkah mata saya? Ternyata yang sedang bicara dengan pemulung itu Tuhan Yesus. Keheranan dan keingintahuan yang besar membuat sayaikut mendengarkan percakapan mereka.

Yesus : Sejak kapan Bapak bekerja sebagai pemulung?
Pemulung: Wah, sudah lama, Tuhan. Kurang lebih 15 tahun.
Yesus : Lama sekali, Pak. Eh, ngomong-ngomong apa senangnya sih menjadi pemulung? Pemulung kan sering dihina orang?
Pemulung: Senang sekali, Tuhan. Biarin orang lain menghina saya. Yang penting saya bekerja secara halal. Tidak mencuri. Apalagi merampok.
Yesus : Bapak tidak malu bekerja sebagai pemulung?
Pemulung: Mengapa harus malu? Saya sama sekali tidak malu. Pekerjaan pemulung memang kotor. Mengumpulkan sampah. Tapi apa hati kami juga kotor? Kami bahkan merasa berharga. Kami turut menjaga kebersihan kota yang sekarang makin digalakkan. Saya bangga menjadi pemulung. Bapak presiden sendiri memberi kami gelar "Laskar Mandiri" dan "Pahlawan Kebersihan."
Yesus : Apa yang Bapak katakan benar. Sebagai pemulung, apa pekerjaan utama Bapak?
Pemulung: Hm ... sederhana sekali, Tuhan. Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya hanya memunguti barang-barang bekas. Kemudian, barang-barang itu saya pisah-pisahkan. Kertas sendiri. Plastik sendiri. Logam sendiri. Setelah saya bersihkan, barang bekas itu saya jual untuk diproses dan didaur ulang. Barang-barang yang sudah tidak terpakai dan dibuang orang itu bisa berguna kembali.
Yesus : Bapak mau nggak bekerja sama dengan Saya?
Pemulung: Apa Tuhan mau mendirikan lapak?
Yesus : (tertawa) Bukan itu maksud Saya. Namun, pekerjaannya hampir sama.
Pemulung: Maksud Tuhan?
Yesus : Pekerjaan yang Saya tawarkan adalah mencari manusia yang merasa hidupnya tidak berguna, rusak, terbuang, frustrasi, stres, depresi, luka batin, ditolak, tidak dikasihi, dan dianggap sampah oleh orang lain. Carilah mereka semua dan bawalah kepada Saya. Saya akan memproses mereka. Mendaur ulang mereka. Saya akan membuat mereka menjadi baru. Saya akan menjadikan hidup mereka indah dan berguna bagi orang lain, terutama agar layak bagi Saya. Bapak mau mengerjakan itu semua?

Ketika pemulung itu mengangguk, saya terbangun. Ternyata percakapan tadi hanya mimpi. Namun mimpi yang demikian indah. Pertanyaan Yesus terakhir seolah-olah ditujukan kepada saya juga. Kepada kita semua. Bersediakah kita meluangkan waktu dan tenaga kita untuk mendengarkan keluhan orang-orang di sekeliling kita? Tergerakkah mulut kita untuk memperkenalkan Yesus kepada mereka? Karena hanya Yesus yang sanggup mengubah segala sesuatu yang rusak, tak berguna, dan terbuang, menjadi suatu kehidupan baru yang indah dan berguna bagi sesama dan bagi Bapa di surga.

Situs Gereja Kristen Jawa Tanjung Priok : http://www.gkjtp.org Online version:

1 comment:

Anonymous said...

Shalom,

Blog kamu Bagus & inspiratif buat saya pribadi. Smoga buat pengunjung yg lain jg. Tetaplah menulis...

JBU.

PS: Mengundangmu jalan-jalan ke blog saya:

http://islamexpose.blogspot.com