Seminar Bible Counseling "Pemulihan bagi hati yang terluka"

Pada tanggal 12 April 2008, kerja sama antara HADIA ( Heartline Academy of Media), HCC (Heartline Counseling Center), Radio Heartline FM 100.6 Karawaci dengan Hope for the heart, USA mengadakan program pelatihan angkatan pertama dengan tema “ Pemulihan bagi hati yang terluka” di gedung Heartline Center Karawaci.

Acara berlangsung dari pukul 9:00-16:00 dan dihadiri 30 orang peserta dari berbagai profesi dan gereja. Setiap peserta mendapat buku Konseling Akitab. Training dibawakan oleh Pendeta John Evert, Senior Counsellor HCC. Para peserta berasal dari berbagai profesi, mulai dari ibu rumah tangga, pendeta sampai pengusaha. Tujuan dari pelatihan ini adalah menjadi konselor yang baik bagi sesama dengan Alkitab sebagai sumber solusi dan membantu meringankan pekerjaan para pendeta atau hamba Tuhan di gereja. Karena kita hidup di dunia yang begitu banyak permasalahannya. Mulai dari masalah pengangguran, kemiskinan, pernikahan yang tidak bahagia, ekonomi yang sulit, sakit penyakit dan sebagainya. Dalam Injil Matius 14:14. “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka dan ia menyembuhkan mereka yang sakit”. Ayat Firman Tuhan ini menjadi ayat dasar dari seorang konselor.

Rangkuman dari Seminar Bible Counseling:
Kita hidup di dunia yang penuh masalah. Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap masalah dan penderitaan. Masalah yang satu belum tuntas, masalah lain sudah muncul.Apa peran kita untuk mereka?

Mengapa umumnya orang enggan peduli terhadap masalah orang lain?


  • Tidak mau pusing/menambah beban karena masalah sendiri saja sudah cukup berat.

  • Tidak mau mengambil resiko.

  • Tidak tahu bagaimana harus menolongnya

  • Apakah keuntungannya bagiku?

Tahukan Anda,Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? ( Sumber buku Purpose Driven Life)



  1. Anda diciptakan untuk kesenangan Allah.

  2. Anda dibentuk untuk keluarga Allah

  3. Anda diciptakan untuk keluarga Allah

  4. Anda dibentuk untuk melayani Allah

  5. Anda diciptakan untuk sebuah Misi.


  • Seorang konselor yang baik adalah punya hati yang penuh belas kasihan bagi yang orang yang bermasalah atau berbeban berat dan menjadi sahabat atau pendengar yang baik.Banyak para hamba Tuhan kurang menekankan pelayanan konseling. Akibatnya banyak jemaat yang tidak mempunyai saluran bagaimana memperoleh solusinya atas masalah hidup mereka. Sehingga membuat beberapa jemaat menjauh dari Tuhan dan meninggalkan pelayanan.

    Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor:

  • Pendeta atau hamba Tuhan sudah terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu dan daya untuk menangani masalah masalah jemaat.

  • Jemaat sungkan menceritakan pergumulan mereka pada Pendeta. Sering kali jemaat di hakimi dengan ayat Firman Tuhan dari pada diberikan pemahaman.

  • Pada umumnya solusi yang diberikan para hamba Tuhan adalah di suruh berdoa saja tanpa disertai petunjuk atau pertolongan bagaimana memperoleh jalan keluarnya.

Pelayanan konseling akan menolong pelayanan pendeta ( Kolose 3:12-17).
Musa, the great counselor, saat ia memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Musa sangat lelah karena seluruh beban ada dipundaknya.Lalau Jitro, menyarankan agar Musa melatih orang-orang untuk membantunya menangai berbagai masalah. Pendeta prlu melatih orang-orang membantunya menangani berbagai masalah.Ini kekuatan dari Pelatihan multiplikasi konselor.


Metode Konseling Alkitab:


Katakan pada diri Anda sendiri " Saya dapat dipakai Tuhan menjadi penolong bagi saudara saya yang bermasalah" .


Dasar Konseling Alkitab:


1. Kristus ( Lukas 1:37, Ibrani 13:8): Bagi Allah tiada yang mustahil, segala persoalan dapat diselesaikan didalam DIA. Bahkan ketika pihak medis tidak mampu menolong. Alalh mampu menolong segala perkara.Ketika seseorang hilang pengharapan, kecewa, kesulitan ekonomi, perceraian didepan mata,luka batin. Bagi Kristus tidak ada yang mustahil.


2. Alkitab dan peranan Roh Kudus ( 2 Tim 3:16, Mazmur 119:105)


3. Kasih dan keperdulian ( 2 Raja-raja 5:13): Tuhan membutuhkan orang yang mau jadi saranaNya dalam melanjutkan misiNya di dunia. Dari berpusat diri sendiri menjadi pola pikir yang berpusat pada orang lain.


Teknik Konseling Alkitab:


1. Kepekaan melihat pergumulan sesama. Hal-hal yang perlu diketahui seorang konselor :



  1. Setiap orang mempunyai masalah.

  2. Setiap orang membutuhkan teman/sahabat dan berbagi beban dan masalahnya.

  3. Setiap orang ingin dibimbing keluar dari masalahnya

  4. Tidak semua orang berani dan terbuka menceritakan masalahnya

Oleh karena itu diperlukan kepekaan untuk melihat gejala-gejala yang dimunculkan seseorang sebagai tanda bahwa ia bermasalah.



  • Terjadi perubahan sikap dan perilaku ( Tidak seperti biasanya).

  • Sering menyendiri dan menhindari keramaian.

  • Sering melamun dan menangis sendiri.

  • Tidak fokus dalam pembicaraan dan pekerjaan.

  • Wajah kusam dan ketakutan.

  • Mudah tersinggung dan cepat marah.

  • Bicara dan sikap berlebihan

  • Bertanya tentang sesuatu masalah dan penyelesaianya

  • Menyatakan masalahnya terbuka.

2. Mendengar dengan penuh perhatian.


3. Mendengar dengan hati


4. Mengarahkan dan membimbing untuk mendapatkan pertolongan Tuhan.


5. Selesaikan masalah dengan tuntas.


Perlengkapan seorang konselor:
1. Alkitab adalah dasar utama
2. Wawasan pengetahuan tentang ekonomi, keluarga, bisnis, kesehatan,
teknologi, psikologi dan pengetahuan umum lainnya.
3. Buku panduan seperti buku konseling Alkitab.
Semoga melalui pelatihan ini para peserta menjadi sahabat sejati bagi yang putus asa, menjadi telinga pendengar dan mulut jawaban bagi yang berbeban berat.

Acara di lanjutkan makan siang di Saung Cobek. Kemudian acara dilanjutkan pembagian kelompok kerja untuk membahas berbagai kasus. Pelatihan ditutup dengan photo bersama antara peserta dan panitia penyelengara acara. HADIA dan HCC telah menyediakan sertifikat bagi perserta yang dapat menyelesaikan program pemuridan bidang konseling dengan tugas-tugas berikut ini dalam waktu 3 bulan:



  1. Telah membaca habis seluruh isi buku Konseling Alkitab 1, karangan June Hunt.

  2. Setia mendengar siaran program “Hope for the heart” di radio Heartline FM 100.6 setiap hari Rabu pukul 17.00-18.00.

  3. Mempraktekkan hasil seminar konseling ini dalam kehidupan miminum 3 kasus.Mengajak minimum 3 orang rekan kedalam pelatihan konseling pada pertemuan berikutnya.

    Samuel David Imanuel
    Lippo Karawaci, 14 April 08.

Kebudayaan adat istiadat Toraja dan Firman Tuhan.

Sejarah dan asal usul suku Toraja

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.
Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.
Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lilina Lapongan Bulan Tana Matari allo arti harfiahnya adalah "Negeri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh etnis Toraja.


Asal masyarakat Tana Toraja.
Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Lain lagi versi dari DR. C. Cyrut seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk local atau pribumi yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang imigran dari Teluk Tongkin-Yunnan, daratan China Selatan. Proses pembauran antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo China dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut.

Sejarah Aluk
Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua.

Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni:
Tipamulanna Aluk ditampa dao langi' yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme' di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi' dirura.
Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo China pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Kambira – Kuburan Bayi
Seseorang bayi yang belum tumbuh gigi apabila meninggal dunia akan dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra. Kayu yang digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar ± 300 tahun yang lalu. Proses pelaksanaan pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap sebagai berikut: Bayi yang meninggal dibalut dengan kain putih yang pernah dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.Kemudian keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak digunakan sebagai kuburan (matanda kayu).Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan rumah kediamannya.Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau. Membuat tana (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan strata sosialnya.12 tana karurung bagi tingkatan bangsawan. 8 tana karurung bagi tingkatan menengah. 6 tana karurung bagi tingkatan bawah. Makadende yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong atau disembelih di halaman rumah duka, kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung. Setibanya di kuburan babi/daging tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai berikut: Dibawa dalam posisi dipangku. Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung kain.

Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke belakang. Setibanya jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari tangga lalu mengambil, mengangkat, dan memasukkan jenasah ke dalam lubang kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar. Kemudian kubur itu ditutup dengan kulimbang di tanah dipasak sesuai dengan statusnya dan sesudah ini dilapisi dengan ijuk dan diikat dengan kadende (tali ijuk).Sepanjang kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir dilarang berbicara, nanti setelah mataletek pa piong (membelah bambu berisi daging yang sudah masak) berarti orang sudah boleh berbicara dan orang yang berada diatas tangga sudah boleh turun.

Makale, Ibu kota Tana Toraja.
Pada asal mulanya Makale berasal dari kata Makale menurut kata orang, penduduk yang hidup di Makale senantiasa bangun pada waktu matahari belum terbit (Makale) oleh karena leluhur mereka mempercayai bahwa orang yang bangun mendahului matahari terbit (Makale) selalu mendapat keberuntungan atau rezeki. Tetapi karena perubahan ucapan kata maka Makale. Makale adalah pusat pemerintahan dan juga terkenal sebagai kota tenang dan damai. Di tengah-tengah kota Makale terdapat sebuah kolam yang airnya jernih dan penuh berisi dengan bermacam jenis ikan. Kolamnya di sebut kolam Makale.
Bukit-bukit yang terjal dari kota dimahkotai oleh puncak menara gereja, sembari kaki lembah didominasi oleh bangunan pemerintah yang baru. Banyak di antaranya mengambil tipe bangunan rumah tradisional Toraja arsitektur yang penuh dengan ukiran dan atap yang melengkung. Kota merupakan daerah yang tepat menghubungkan dengan daerah Toraja barat, sekitar Londa, Suaya dan Sangalla. Pada saat pasar kota ini merupakan pusat aktivitas karena rakyat dari jauh datang dengan hasil produksinya berupa binatang, kerajinan tangan tikar, keranjang dan kerajinan buatan lokal.

Nilai Tradisi Vs Prinsip Alkitab
Suku Toraja masih terikat oleh adat istiadat dan kepercayaan nenek moyang. Kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak mungkin bisa ditunda.
Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo; dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk, yang bersangkutan tidak dapat mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat.
"Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka’ atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan salah aluk (tomma’ liong-liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat menuju siruga (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando.
Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya.
Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga


Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa kerbau dan babi sebanyak mungkin. Sesuai status sosial atau kedudukan orang yang meninggal.Semakin tinggi status social orang tersebut, maka kerbau belang atau babi yang dipotong semakin banyak. Harga kerbau mulai dari 40 juta rupiah sampai 100 juta rupiah. Seseorang meninggal akan dibuat upacara adat setelah menunggu dua sampai tiga tahun sampai terkumpulnya biaya upacara kematian. Para penganut kepercayaan Aluk Todolo percaya bahwa roh binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puyo. Sehingga biaya untuk pemakaman lebih mahal dari pada biaya pernikahan di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.


Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur nenek moyang. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur, bencana pun tak dapat dihindari.


Berbagai bentuk tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh para penganut kepercayaan Aluk Todolo-termasuk ritus upacara kematian adat Tana Toraja yang sangat dikenal luas itu-kini pun masih bisa disaksikan. Meski terjadi perubahan di sana-sini, kebiasaan itu kini tak hanya dijalankan oleh para pemeluk Aluk Todolo, masyarakat Tana Toraja yang sudah beragama Kristen dan Katolik pun umumnya masih melaksanakannya. Sehingga menjadi suatu tugas para hamba Tuhan untuk memberitakan injil yang sesuai dengan budaya setempat yang tidak bertentangan dengan prinsip Alkitab. Bagi anak Tuhan di Tana Toraja terjadi suatu dilema dalam memilih nilai tradisi atau prinsip Firman Tuhan. Bila terjadi perbedaan prinsip budaya lokal dan Firman Tuhan maka Firman Tuhan harus menjadi prioritas diatas budaya atau adat istiadat. Karena Tuhan adalah diatas semua pencipta kehidupan. Karena Tuhan Yesus melampaui Hukum Taurat dan Tradisi Yahudi pada jaman perjanjian baru.

Bagaimana iman Kristen menyoroti budaya? Bagaimana kita melihat budaya?
Budaya harus kita tempatkan pada proporsi yang pas, dan ukurannya adalah Alkitab, tidak ada yang lain. Ketika Tuhan menciptakan manusia untuk beranak-cucu di muka bumi, Tuhan juga memerintahkan manusia untuk mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Mat 22: 39). Jadi, budaya adalah konteks di mana manusia berelasi satu dengan yang lain. Budaya adalah konteks mengatur relasi itu sendiri sehingga manusia saling menopang, bergotong-royong untuk menciptakan suatu sistem masyarakat yang penuh dengan cinta kasih. Suatu sistem masyarakat yang saling mendukung.
Salah satu definisi budaya adalah suatu tatanan nilai/adat istiadat, yang mengatur kehidupan. Tapi, antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain, budayanya bisa berbeda, karena budaya sangat berkaitan dengan pengalaman hidup suku itu, dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan seperti letak geografis, dan sebagainya. Budaya yang tinggi akan menghasilkan nilai hidup yang tinggi. Namun, sekalipun seseorang berbudaya tinggi, tidak berarti dia bisa dibenarkan Alkitab. Atau sebaliknya, orang yang berbudaya luhur, sekalipun bukan Kristen, bisa lebih baik dibanding orang Kristen yang tak punya budaya.

Tapi di sini kita tidak membicarakan budaya sebagai satu kaitan dengan keimanan. Kita berbicara mengenai budaya sebagai refleksi orang beriman. Kalau Anda orang beriman, harus mampu merefleksikannya. Jadi, budaya itu harus kita junjung tinggi. Tetapi budaya yang seperti apa? Tentu saja yang sepadan atau sejalan dengan Alkitab.
Tuhan Yesus memberi sikap yang tegas terhadap kebudayaan orang-orang Yahudi. Tuhan Yesus tidak membatalkan tetapi menyempurnakan. Ini berarti bahwa kebudayaan di mata Tuhan Yesus adalah sarana untuk menyampaikan kehendak-Nya. Bila kebudayaan itu tidak menghalangi kehendak-Nya maka Tuhan Yesus membiarkan kebudayaan tersebut. Contoh, Tuhan Yesus datang ke Bait Allah .Jika kebudayaan tersebut menghalangi kehendak-Nya maka Tuhan Yesus akan menolak kebudayaan tersebut. Contoh. Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Ini berarti bahwa Yesus berada di atas nilai-nilai kebudayaan.

Sumber :

Wikipedia Indonesia, Toraja tourist information center , Ringkasan Kotbah Pdt. Bigman Sirait tentang Budaya


Sejarah Singkat Gereja Bethel Indonesia

Sejarah Singkat Gereja Bethel Indonesia

Dengan pergumulan doa dan puasa, maka Tuhan membuka jalan dengan ajaib, sehingga pada tanggal 6 Oktober 1970 di kota Sukabumi, Jawa Barat, lahirlah Gereja Bethel Indonesia (GBI).
Dengan singkat kami tuturkan sejarahnya sebagai berikut:


Pada tahun 1992 Pendeta W.H. Offiler dari “Bethel Pentacostal Temple Inc.” di Seattle, Washington, USA mengurus dua orang missionarinya,yaitu Rev. Van Kleveren dan Groesbeek, bangsa Amerika keturunan Belanda. Dengan Rev. J. Thiessen dan F.G. Van Gessel mereka merupakan pionir dari “Gerakan Pantekosta” di Indonesia. Mula-mula mereka memberitakan Injil di Bali, tetapi dengan pimpinan Tuhan mereka pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel, seorang Kristen injili yang bekerja pada Bataafsche Petroleum Maatschappij (Perusahaan Minyak Belandsa).

Groosbeek mengambil kedudukannya di Cepu, tetapi Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur. Van Gessel tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian “Vrije Evangelisatie Bond” yang dipimpin oleh Ds.C.H. Hoekendijk (ayah dari Karel Hoekendjik). Groosbeek mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel.

Di bulan Januari 1923 Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima baptisan Roh Kudus sesuai dengan Friman Tuhan. Suaminya F.G. Van Gessel juga menerima baptisan Roh Kudus, beberapa bulan kemudian. Jemaat Cepu yang kecil itu, pada 30 Maret 1923 telah mengadakan Baptisan Air yang pertama. Groesbeek mengundang J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung untuk turut hadir dalam pelayanan baptisan air yang pertama ini.

Pada hari Jumat Agung itu lima belas jiwa baru telah dibaptiskan. Dalam kebaktian-kebaktian yang diadakan bersama itu, sepuluh anggota lagi menerima Baptisan Roh Kudus. Tuhan bekerja dengan heran dan menyembuhkan banyak orang sakit secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu. Dan inilah permulaan dari kegerakan Pantekosta di Negara Indonesia.

Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya, dan Van Gessel pegawai tinggi BPM itu telah menjadi Evangelist dan meneruskan memimpin Jemaat Cepu. Pada bulan April 1926 berpindah lagi ke Groesbeek dan Van Klaveren ke Batavia (Jakarta). Van Gessel merasa panggilan Tuhan untuk memimpin Jemaat Tuhan di Surabaya, maka ia meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya.

Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang dengan pesat di tengah-tengah segala angin ribut perlawanan. Sementara itu banyak cabang-cabang jemaat telah dibuka di mana-mana, sehingga mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang Gereja Pantekosta di Indonesia).

Pada tahun 1932 Tuhan memberkati jemaat-Nya di Surabaya dengan sebuah Gedung Gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk (gereja yang terbesar di Surabaya pada waktu itu).

Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”, tahun 1935. Sementara itu Bethel Pentacostal Temple di Seattle, Washington, dalam tahun 1935 itu, mengurus beberapa Missionari lagi. Satu di antaranya yaitu, W.W. Patterson membuka Sekolah Akitab di Surabaya (NIBI: Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, misionari-misinonari itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.

Sesudah pecah perang, maka pimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua Gereja Pentakosta di Indonesia untuk menggantikan F.G Van Gessel . Roh Nasionalisme yang masih berkobar-kobar pada waktu itu, juga meliputi suasana kebaktian dalam gereja-gereja Pentakosta hal mana menyadari Van Gessel bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.

Antara pendeta-pendeta yang tidak merasa puas dengan keadaan rohani Gereja Pentakosta di kala itu, adalah Pdt. H.L Senduk. Keberatan juga diajukan terhadap kekuatan otoriter dalam Pengurus Pusat Gereja tersebut. Ketidakpuasan ini mengakibatkan sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, dan pada tanggal 21 Januari 1952, di kota Surabaya, membentuk suatu Organisasi Gereja baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).

Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). H.L, Senduk adalah Pendeta dari jemaatnya di Jakarta sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di dua kota yang terpenting di Indonesia yaitu Jakarta dan Surabaya.

Pada tahun 1954, Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu dibawah Pemerintahan Belanda). Jemaatnya di Surabaya diserahkannya kepada anak mantunya, Pdt. C. Totays. di Hollandia (sekarang Jayapura). Van Gessel membentuk suatu Organisasi baru yang bernama “Bethel Pinkesterkerk” (sekarang Bethel Pentakosta).

Pada tahun 1957, Van Gessel meninggal dunia, akhirnya pelayanan diteruskan oleh anak mantunya, C. Totays, sebagai pimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk.

Sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka pada tahun 1962 semua warga negara Kerajaan Belanda harus kembali ke Nederland. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan Pendeta-pendeta Indonesia.

Roda sejarah berputar terus, dan GBIS dibawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Tetapi GBIS ini merupakan suatu proses untuk melahirkan suatu Gereja yang lebih dinamis. Bermacam-macam kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi H.L. Senduk. Puncak krisisnya adalah pada tahun 1968/1969 dimana oleh suatu keputusan Menteri Agama, mereka menghadapi jalan buntu yang mati total. Gereja menghadapi kehancuran atau....."harus ikut arus" yaitu melawan hati nurani sendiri dan melawan Firman Tuhan.

Dengan pergumulan doa dan puasa, maka Tuhan telah membuka jalan dengan ajaib, sehingga pada 6 Oktober 1970 di kota Sukabumi, Jawa Barat, H.L. Senduk dan rekan-rekannya dapat membentuk suatu Organisasi Gereja baru yang bernama “Gereja Bethel Indonesia” (GBI) yang pada tahun 1972 telah diakui oleh Pemerintah dengan sah sebagai suatu KERKGENOOTSCHAP, yang berhak hidup dan berkembang di bumi Indonesia.

Mulai dengan hanya kurang dari 20 jemaat, tetapi saat ini jumlah jemaat GBI mencapai 4.500-an, yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air dan Luar Negeri, sedangkan jumlah pejabat sebanyak kurang lebih 15.000 orang. Tuhan Yesus Kepala Gereja GBI akan terus memimpin dan mengembangkan Gereja-Nya sesuai dengan rencana-Nya untuk bangsa Indonesia.

sumber: webbsite Sinode GBI

Sejarah Gereja Santapan Rohani Indonesia


Pendiri


Ketika Dinasti Tang di daratan Tiongkok runtuh pada tahun 997 SM, ada pergumulan diantara pemimpin-pemimpin militer untuk mengambil alih kekuasaan. Pada tahun 960, Dzao Kwang Yin diangkat sebagai kaisar Tiongkok yang baru dengan nama Tai Tzu. Ia berhasil mempersatukan kekaisarannya dan dinasti Sung yang terkenal bertahan samapi tahun 1279.

Lahir di Shanghai pada tahun 1908 sebagai satu-satunya putera dari seorang pedagang, Dzao Yuen Chong adalah generasi ke-33 dari dinasti Sung. Ia dibesarkan oleh ibunya, seorang pemeluk agama Buddha yang setia. Dalam keluarga besarnya hanya ada dua orang Kristen, seorang paman yang menjadi anggota gereja Presbiterian dan seorang saudara sepupu yang mengajar Sekolah Minggu di Gereja Metodis. Yang terakhir inilah yang mengundangnya ke Sekolah Minggu ketika ia berusia 13 tahun. Ia menghadiri Sekolah Minggu selama 4 tahun dan menganggap Yesus sebagai seorang Guru Besar, setara dengan Buddha dan Khonghucu. Pada tahun 1924 ia dibaptis tanpa persetujuan ibunya dan menjadi anggota Gereja Metodis Shanghai. Tapi baru beberapa tahun kemudian dalam suatu kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh Padgett Wilkes, seorang missionary Inggris, Dzao Yuen Chong mengerti apakah ke Kristenan sebenarnya. Dia menerima Kristus sebagai Juruselamat dan menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan.

Ia mengganti namanya dari Dzao Yuen Chong menjadi Dzao Sze Kwang, yang artinya terang dunia. Pada tahun 1928, ia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Kristen. Ia menerima tawaran Persatuan Misionari Kristen untuk menjadi pendeta di sebuah gereja kecil. Pada tahun 1932 ia ditahbiskan sebagai pendeta dan mengambil nama Timothy (Timotius) sebagai nama baptisannya. Ia menikah dengan seorang pemudi Kristen dan selama 8 tahun berikutnya bekerja membangun gereja kecil tersebut di samping aktif berkotbah di berbagai gereja.

Pada tahun 1928, Robert A. Jeffrey, seorang misionari dari Persatuan Misioanari Krsiten membentuk Misi Penginjilan Tionghoa dan merekrut hamba-hamba Tuhan Tionghoa untuk menjangkau Asia Tenggara. Salah satu hamba Tuhan yang mendaftarkan diri ialah Timothy Dzao. Pada bulan September 1937 Timothy Dzao meninggalkan gereja yang ia layani (jumlah anggota berkembang menjadi 600 orang dewasa) dan menggunakan waktu 5 tahun 6 bulan berikutnya berkotbah di Philipina dan Indonesia. Di Indonesia, ia bekerja bersama-sama para hamba Tuhan dari gereja Tionghoa mengadakan kebaktian kebangunan rohani di Menado, Makassar, Banjarmasin, Singkawang, Pontianak, daerah pedalaman Dayak, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Dalam perjalanannya kembali ke Shanghai, ia juga berkotbah di Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Pada tahun 1938, ia mengunjungi Pasifik Selatan untuk kedua kalinya dan menjadikan Jakarta sebagai "rumah"nya. Ia belajar bahasa Indonesia, berkotbah dan memulai koresponden Alkitab dalam bahasa Indonesia. Tahun 1940 ia kembali ke Shanghai dengan sebuah rencana untuk membawa sekelompok pemuda/I gereja ke Indonesia untuk pelayanan pionir. Tapi pada akhir tahun 1941 perang pasifik berkobar dan ia tak dapat kembali ke Indonesia.

Di Jakarta (Batavia) 4 orang Kristen yang bernama Kho Swan Nio, Kho Hong Nio, Lim A Ten dan Tjoa Kim Djwan, membeli sebuah rumah di Drossaerwerg Straat No. 185 (sekarang Jl. Tamansari no. 79) pada tanggal 5 September 1941. Mereka menyerahkan rumah tersebut sebagai Gereja Sidang Kristoes Batavia dan mengharapkan kembalinya Timothy (Timotius) Dzao untuk menjadi gembala sidang. Sementara itu, beberapa hamba Tuhan bergantian melayani jemaat yang kecil ini.

Dari tahun 1942 - 1947, Timotius Dzao mengkonsentrasikan pelayanannya di Shanghai dan sekitarnya. Ia mendirikan gereja Ling Liang di Nanking, Hang Chow, Su Chow, Ching Po, King Ko dan Enan. Ia mendirikan SD dan SMP, panti asuhan, rumah jompo, seminari Hwa Thung dan sekolah Alkitab. Seusai perang, ia juga mendirikan sebuah seminari di Hanchow. Pada bulan Agustus 1942, ia mendirikan Ling Liang World-Wide Evangelical Mission (LLWWEM) di Shanghai untuk mempromosikan Pengabaran Injil (PI), pembentukan gereja, pelayanan social di daratan Tiongkok, dan juga program Pengabaran Injil di seluruh dunia.

Pada tahun 1947, Timotius Dzao kembali ke Jakarta dan mengadakan satu seri kebangunan rohani di gereja-gereja Tionghoa dan melayani gereja Sidang Kristus. Tahun 1948, ia berkotbah keliling di Amerika dan Kanada lalu kembali ke Shanghai. Pada bulan Oktober 1943, dengan keluarganya ia meninggalkan daratan Tiongkok menuju Hongkong melalui Taiwan ketika Partai Komunis Tiongkok mengambil alih pemerintahan. Di tahun yang sama, LLWWEM Shanghai mengutus Moses Chow dan isterinya ke Jakarta sebagai misionari pertama untuk melayani gereja Sidang Kristoes Batavia.

Pada tanggal 6 Nopember 1949, Timotius Dzao memulai kebaktian siang menggunakan gedung gereja Baptis Kowloon. Yang hadir dalam kebaktian kebanyakan adalah orang-orang Kristen yang meninggalkan daratan Tiongkok. Pada tanggal 9 September 1952, gereja Ling Liang Kowloon terbentuk.

Pada bulan Januari 1950, Timotius Dzao menyewa gedung pertunjukan King di Hongkong untuk Kebaktian Minggu, memasang iklan di surat kabar dan membayar guru musik lengkap dengan sebuah paduan suara. Lebih dari 1000 orang menghadiri kebaktian. Di samping itu ia juga mengadakan kebaktian di lantai pertama gedung perkantoran yang menampung 400 orang. Gedung itu kini menjadi gereja Ling Liang Hong Kong.

Pada tanggal 5 Agustus 1950, Timotius Dzao kembali ke Jakarta; Moses Chow dan jemaat Sidang Kristoes Batavia menyetujui untuk mengganti nama gereja menjadi gereja Ling Liang Tamansari. Pada tanggal 23 Nopember 1950, gereja didedikasi dan Moses Chow ditahbiskan menjadi Gembala Sidang.

Pada bulan Maret 1951, Moses Chow memulai kebaktian dalam bahasa Mandarin, yang berkembang dan kini menjadi GSRI Kartini.

Di tahun 1953, gereja Ling Liang Hongkong mengutus misionari yang pertama, sdri Lo Su Wen, untuk bekerja di Singkawang dan di Pangkalan Kongsi, namun ia mati terbunuh di tahun yang sama.

Di tahun 1953 - 1954, Gereja Ling Liang (GSRI) Tamansari memulai pekerjaan di Karawang dan Cikampek. Misi berkembang dan di dua kota ini gereja Ling Liang terbentuk dan sekarang bernama GSRI Karawang dan GSRI Cikampek.

Di tahun 1955, Timotius Dzao berkunjung ke Jakarta dan bekerja bersama gereja Ling Liang Tamansari untuk mendirikan Sekolah Utusan Injil (Sekolah Latihan Pekabaran Injil) Sebagai bagian dari sekolah ini, didirkan sebuah tempat kebaktian yang kemudian berkembang dan menjadi Ling Liang (GSRI) Kebayoran.

Di tahun 1955, Universitas Gamaliel di Taipei mengadakan perluasan programnya di Jakarta. Timotius Dzao memberi ijin kepada pimpinan universitas untuk menggunakan sebagian tempat Sekolah utusan Injil untuk pertemuan mereka ketika mereka mencari tempat yang tetap. Pemerintah pada waktu itu, di bawah pengaruh Partai Komunis, menganggap Sekolah Utusan Injil sebagai bagian dari Universitas Gamaliel, Taipei yang menentang komunisme. Atas dasar kesalah-pengertian politik tersebut, Sekolah Utusan Injil ditutup dan sebagian besar tanah milik Sekolah Utusan Injil diambil-alih oleh pemerintah pada tahun 1958. Timotius Dzao kembali ke Hongkong dan mengarahkan pelayanannya dalam pendirian gereja sampai kematiannya pada tanggal 17 September 1973.

Sebagian tanah milik Sekolah Utusan Injil dikembalikan pada tahun 1979 dan untuk meneruskan misi dari Timotius Dzao, Institut Misi dan Alkitab Nusantara (IMAN) didirikan pada tahun 1981 di tempat yang sama. Pada tahun 1985 gedung IMAN yang baru dan lebih besar didedikasikan. Institus Misi dan Alkitab Nusantara ini sekarang menjadi Sekolah Tinggi Theologia IMAN.

Di daratan Tiongkok, sampai pada tahun 1951, ada sekitar 3000 anggota gereja Ling Liang di Shanghai dan sekitarnya. Di bawah tekanan dari Partai Komunis Tiongkok, pada tahun 1955, majelis gereja Ling Liang di Shanghai memutuskan hubungan dengan Timotius Dzao yang dituduh sebagai "agen imperialis". Pada tanggal 22 September 1966, semua gereja di daratan Tiongkok ditutup.

Pada tahun 1946, Timotius Dzao diundang oleh gereja Presbiterian Taipei untuk suatu seri kebangunan rohani. Pada tahun 1947, ketika ia kembali ke Taiwan, gereja-gereja Persekutuan Timur Jauh di Taipei, Hsiuchu, Hsikong, Tainan dan Kaoh Shung memutuskan untuk menjadi bagian gereja Ling Liang.

Gereja Ling Liang Kowloon memulai misinya ke India dengan mengutus David Lamb, seorang hamba Tuhan. Ketika Timotius Dzao mendengar hal ini, ia mengambil inisiatif untuk mengadakan suatu seri kebangunan rohani di gereja Old Mission. Beberapa orang Kristen baru dibaptiskan sebagai hasil kebaktian ini. Didukung oleh gereja Ling Liang Kowloon, David Lamb dan keluarga tiba di Calcutta pada tahun 1949. Kebaktian "padang" diadakan di daerah Chinatown dan Tangra.

Pada tahun 1962, gereja Ling liang pertama dan SMA didirikan di pusat Chinatown, Calcutta. SMA tersebut sekarang menampung 1000 murid. Di tahun 1968, gereja Ling Liang Immanuel dan sekolah untuk anak-anak terlantar didirikan di Tangra. Pada tahun 1974, gereja Ling Liang Anugerah (GRACE) didedikasikan di Tangra, bersama dengan Ling Liang Junior College.

Pada tahun 1955, gereja Ling Liang New York dimulai. Pada tanggal 1 Juli 2000, gedung gereja Ling Liang New York yang baru didedikasikan. Pada tahun 1967 gereja Ling Liang Torrence di California dimulai diikuti oleh gereja Ling Liang di Orange County pada tahun 1988.

Di bulan September 1955, Timotius Dzao menerima gelar Doktor Kehormatan (D.D.) dari Taylor University Upland, Indiana dan juga dari Tennessee Temple College, Chattanooga, Tennessee pada tahun 1956. Pada bulan Oktober 1966, ia diundang menjadi salah satu pembicara pada Kongres Pengabaran Injil (PI) sedunia di Berlin Barat, Jerman, bersama Billy Graham, John R. W. Stott dan Carl. F. Henry.

Gereja ling Liang Philipina dimulai dari kelompok Pemahaman Alkitab (PA) yang dihadiri oleh 5 orang dan dipimpin oleh alm. Lulee Tan. Pada tahun 1987, gereja Ling liang Philipina didirikan di kota Manila.

Pada tahun 1973, Gloria Dzao, salah seorang puteri Timotius Dzao, diberi dorongan oleh ayahnya, memulai kelompok Pemahaman Alkitab (PA) di Toronto dengan nama persekutuan Ling Liang. Di tahun 1974, kelompok Pemahaman Alkitab (PA) ini dihadiri oleh 20 orang. Pada bulan Juni 1975, Kebaktian Minggu yang pertama diadakan dihadiri oleh 66 orang. Pada bulan Agustus 1975, gereja Ling Liang Toronto didirikan. Di tahun 1988, Pusat Pengabaran Injil (PI) Ling Liang dan Crescent Outreach didirikan.

Ling Liang World-Wide Evangelical Mission (LLWWEM) kini menjadi wadah persekutuan dari sekitar 45 gereja Ling Liang berikut pos-pos PI-nya di seluruh dunia.

Di tahun 1961, gereja ling liang Tamansari mengganti namanya menjadi Gereja Santapan Rohani Indonesia sesuai dengan himbauan pemerintah. Pos Tomang didirikan pada tahun 1962 dan Pos Bogor didirikan pada tahun 1966, kedua pos tersebut kini telah menjadi Jemaat mandiri dengan nama GSRI Tomang dan GSRI Bogor.

Catatan: Bahan diambil dari disertasi Debora K. Malik.
Kepustakaan:
Mashburn, Charles. Timotius, Rasul Untuk Asia Tenggara. Djakarta : Penerbit Santapan Rohani, 1957.
Ong, Joshua. "Sejarah Gereja Santapan Rohani Indonesia," di tahun ke 45 Gereja Santapan Rohani Indonesia Tamansari. Jakarta: Privately printed, 1994.
Ting, Richard, ed. Timothy S.K. Dzao, 1908-1973, Book of Rememberance. Torrence, CA: Privately printed by Ling Liang World-Wide Evangelistic Mission, 1993.



Copyright © 2003 GSRI TamanSari

The Holy Spirit

The Holy Spirit
by Fr. Fio Mascarenhas
Long before the Holy Spirit became an article of the Creed, he was a living reality in the experience of the early Church. The Acts of the Apostles could well be titled, 'The Acts of the Holy Spirit', since on every page the Spirit's presence is felt, more real and more active than the men and women whose names are recorded there. He is spoken of as a presence both beloved and sure: the Spirit inspires boldness in the apostles (Acts 8:29-39); he gives strength to the martyrs (7:55); he brings Peter, a Jew, to the household of Cornelius, a Gentile (10:19f); he chooses those who are to be sent on mission (13:2); he is the joy and assurance of those who are persecuted (13:50ff); he presides over the decisions made in the new-born Church (15:28); he guides the apostles' travels (16:6f); he especially directs Paul's missionary life (20:22-24); etc.

Over the last twenty centuries too, the Holy Spirit has influenced the great decisions that have determined the course of the Church's mission. This was especially true of the II Vatican Council held 40 years ago. Therefore, Pope John Paul II asked the whole Church to have a clearer understanding of the person of the Holy Spirit; a "renewed appreciation of the presence and activity of the Spirit" in the whole world and especially in the Body of Christ; and a more vivid devotion to the Holy Spirit in our personal lives.


Who is the Holy Spirit?
The Holy Spirit is the Spirit of the Father and of the Son, and his wish is to glorify both of them; he never calls attention to himself. In John's Gospel, Father, Son, and Holy Spirit are clearly referred to as persons, each of them distinct from one another. Jesus speaks of the Holy Spirit, using several times the personal pronoun "he"; and at the same time, throughout the farewell discourse, he reveals the bonds which unite the Father, the Son, and the Spirit to one another: "The Spirit of truth …proceeds from the Father" (Jn.15:26), the Father "gives" the Holy Spirit (14:16); the Father "sends" the Spirit in the name of the Son (14:26), and the Spirit "bears witness" to the Son (15:26). The Son asks the Father to send the Spirit-Counsellor (14:16), but likewise affirms and promises, "If I go, I will send him to you" (16:7).

God's self-gift to us
The Holy Spirit can be called, "God's Self-Gift" to us. Pope John Paul II taught that from the day of Pentecost onwards begins "the new salvific self-giving of God, in the Holy Spirit …The Holy Spirit is the Spirit of the Father, as the words of the farewell discourse in the Upper Room witness. At the same time he is the Spirit of Jesus Christ, as the Apostles and particularly Paul of Tarsus will testify …In this way there is definitively brought about the new beginning of the self-communication of the Triune God, in the Holy Spirit, through the work of Jesus Christ" (DeV, 11,14).
God's first "self-giving" is when the Father creates each human person "in his own image and likeness." God's second "self-giving" is in sending Jesus into our world to become fully a part of humanity and its Savior. And from Pentecost until the end of time, the third "self-giving" of God is when the Holy Spirit fills our hearts and lives, to renew the face of the Church and of the earth!

The Holy Spirit, therefore, can be pictured in our minds as God delighting in us and rushing to clasp us all in an embrace of love! All the symbols (below) of the Holy Spirit, and terms like "the outpouring" of the Spirit, confirm this mental picture of movement, of God moving towards us in love and power to stay with us and to bless us: to sanctify, and heal, and purify, and strengthen, and comfort…


The Proper Name of the Holy Spirit
"Holy Spirit" is the proper name of the One whom we adore and glorify with the Father and the Son. The Church has received this name from the Lord Jesus and she professes it in the baptism of her new children (Mt.28:19). The term "Spirit" translates the Hebrew word ruah, which means, in its primary sense, breath, air, wind. Jesus uses the sensory image of the wind to suggest to Nicodemus the transcendent newness of the divine Spirit (Jn.3:5f). On the other hand, "spirit" and "holy" are divine attributes common to the three divine persons; by joining the two terms, Scripture designates the inexpressible person of the Holy Spirit.

Titles of the Holy Spirit
Jesus calls him "Paraclete" (Jn.14:16,26; 15:26; 16:7), a Greek word which means, "He who stands at one's side," Counsellor, Advocate, Encourager. Jesus also calls him "the Spirit of truth" (Jn.16:13). St. Paul calls the Holy Spirit "the Spirit of sonship/adoption" (Rom.8:15), "the Spirit of Christ" (Rom.8:9), "the Spirit of the Lord" (2 Co.3:17), or "the Spirit of God" (Rom.8:14). St. Peter refers to him as "the Spirit of glory" (1 Pt.4:14).

Symbols of the Holy Spirit
Water:
The Spirit is personally the living water welling up from Christ crucified as its source (Jn.19:34), as promised earlier by Jesus when he proclaimed, "If anyone thirsts, let him come to me and drink. He who believes in me, as the scripture has said, 'Out of his heart shall flow rivers of living water'. Now this he said about the Spirit, which those who believed in him were to receive" (Jn.7:37-39). St. Paul too teaches that we are "made to drink of one Spirit" (1Co.12:13). Hence, the symbolism of flowing water signifies the Holy Spirit's action in the sacrament of Baptism.
Fire:
While water signifies birth and the fruitfulness of life given in the Holy Spirit, fire symbolizes the transforming energy of the Holy Spirit's actions. Jesus said of the Spirit, "I came to cast fire upon the earth, and would that it were already kindled!" (Lk.12:49). So too, in the form of "tongues as of fire" the Holy Spirit rested on the disciples and filled them with himself at Pentecost (Acts 2:3). St. Paul continues to use this symbolism when he writes, "Do not quench the Spirit" (1 Thes.5:19).

Anointing with oil:
Jesus is the Christ (Greek) or Messiah (Hebrew) which means "the one anointed" by God's Spirit (see Lk.4:18; Acts 10:38; etc.), hence the symbolism of anointing with oil signifies the Holy Spirit. Anointing is the sacramental sign of Confirmation or "chrismation", corroborated for example, by 1Jn.2: "You have been anointed by the Holy One" (v.20), and "the anointing which you received from him abides in you, and you have no need that anyone should teach you; as his anointing teaches you about everything, and is true" (v.27).

Finger:
It is by "the finger of God" that Jesus casts out demons (Lk.11:20). God's law was written on tablets of stone by "the finger of God" (Ex.31:18), and the "letter from Christ" is written "with the Spirit of the living God, not on tablets of stone, but on tablets of human hearts" (2 Co.3:3).

Dove:
Christian art traditionally uses a dove to suggest the Spirit, since the Gospels record that when Jesus was baptized in the Jordan, "the heavens were opened, and he saw the Spirit of God descending like a dove and alighting on him" (Mt.3:16).

All these symbols represent the action of the Spirit and should not be mistaken for the Person of the Holy Spirit (for instance, the dove is a symbol, and not a photo, of the Spirit). They signify movement, dynamism, divine energy, and tell us that the Holy Spirit is God-in-action, achieving our sanctification and bringing us new life.


Worship of the Holy Spirit
As we profess in the Nicene Creed, each Person of the Blessed Trinity individually, and all Three together are worthy of praise, worship and glory. They are equal in holiness, and majesty, and power, yet the Father takes precedence over the Son and the Spirit, he is the first among equals. Without loss of majesty and power, the Son and the Spirit obey the Father's will and do everything for the glory of the Father - such is the profound mystery of the Holy Trinity. In practice, to worship the Spirit means to be docile and open to his action, yielding to his promptings with love, as the Virgin Mary and the Saints did. It also means that we will express our love for him in prayer, by singing his praises and inviting him into our lives.

The Sin against the Holy Spirit
"Whoever says a word against the Son of Man will be forgiven; but whoever speaks against the Holy Spirit will not be forgiven, either in this age or in the age to come" (Mt.12:31f). Why is this speaking against or "blasphemy against" the Holy Spirit (Lk.12:10) unforgivable? Pope John Paul II explains: "If Jesus says that blasphemy against the Holy Spirit cannot be forgiven either in this life or in the next, it is because this 'non-forgiveness' is linked, as to its cause, to 'non-repentance', in other words to the radical refusal to be converted. …This 'blasphemy' does not consist in offending against the Holy Spirit in words; it consists rather in the refusal to accept the salvation which God offers to man through the Holy Spirit, working through the power of the Cross" (DeV, 46). Thus blasphemy against the Holy Spirit is the sin committed by the person who claims to have a 'right' to persist in evil - in whatever sin - and who thus rejects Redemption. This is a state of spiritual ruin, because sinning against the Holy Spirit does not allow one to open oneself to the Divine Source of purification and forgiveness of sins. St.Paul exhorts all, "Do not quench the Spirit"; "Do not grieve the Holy Spirit" (1 Thes.5:19; Eph.4:30).

Joint Mission of Jesus and the Holy Spirit
The Spirit of his Son, whom the Father has sent into our hearts, is truly God (1 Co.2:11). He is inseparable from the Father and the Son. But when the Father sends his Word, he always sends his Breath. Hence, their's is a joint mission, in which the Son and the Spirit are distinct but inseparable. It is Christ who is seen, "the visible image of the invisible God" (Col.1:15), but it is the Spirit who reveals him (1Cor.12:3b). Whenever God sends his Son, he always sends his Spirit: their mission is conjoined and inseparable. God's Spirit prepares for the time of the Messiah: neither Word nor Spirit are fully revealed but both are already promised. Therefore, when the Church reads the Old Testament, she searches there for what the Spirit, "who spoke through the prophets", wants to tell us about Christ (see 2 Co.3:14; Jn.5:39, 46).

Main Objective of the Spirit's coming
"For God has called us for holiness. Therefore whoever disregards this, disregards not man but God, who gives his Holy Spirit to you" (1 Thes.4:7-8). The very name, Holy Spirit, indicates that he is the Spirit of holiness, who makes holy all those who are open to his sanctifying action. The Holy Spirit works among all God's children, among the disciples of Jesus in a special way (through the sacraments, the word of God, and Christian fellowship), but also among others who sincerely seek God: "the Spirit blows where it wills" (Jn.3:8). In order to glorify Jesus, God's Spirit makes every effort to influence all human beings to receive the gift of eternal life: "Walk by the Spirit, and do not gratify the desires of the flesh" (Gal.5:17; see also 5:22).

Counselor

Counselor
From Wikipedia, the free encyclopedia

A counselor (or counsellor) in mental health, psychotherapy or counseling is a licensed and professionally trained person who provides services:

Rehabilitation Counselor, a person assisting injured workers and persons with disabilities to obtain, maintain or regain employment
Marriage and Family counseling, a method of study, understanding and treating disorders of the interactional whole of a family and its individual members as a family unit.
School Counselor, a person who provides systematic school guidance
Mental Health Counselor, a professional who provides psychotherapy counseling to individuals or groups, but is also trained in vocational therapy and family therapy.

In Law, Politics and government a counselor may be a:

· Lawyer as in legal counsel
· Minister-counselor, a high-ranking diplomat usually just below the status of an ambassador or of a diplomatic minister.
· Consul, the highest elected office of the Roman Empire or
· Consul (representative), an official representatives of a state, outside its (metropolitan) territory that takes care of its interests outside the official Embassy in a Consulate.
Other uses:

· Consultant, a professional who provides expert advice in a particular domain or area of expertise.
· Counselor, a children's supervisor, usually at camp
· Councillor, a member of a council
· Privy Counsellor, a member of a Privy Council
· Institution of the Counsellors, an appointed position in the Bahá'í Faith
· Disciplinary council, an ecclesiastical trial.
· Sidewalk counseling a form of pro-life activism.
· Counselor (Role Variant), is a name for the Myers-Briggs Type Indicator personality type INFJ (Introverted iNtuitive Feeling Judging)

Counsellor: Job description and activities

Counsellor: Job description and activities

Job description
Counsellors help people to explore feelings about their lives so that they can reflect about what is happening to them and consider alternative ways of doing things. Working in a confidential setting, counsellors listen attentively to their clients and offer them the time, empathy and respect they need to express their own feelings, and perhaps understand themselves from a different perspective, thereby reducing their confusion and enabling them to make changes in their life if they decide to do so.

Counsellors do not give advice, but help clients to make their own choices within the framework of an agreed counselling contract.

Typical work activities
There are a range of models of counselling, each with its own theoretical basis. Differences in approach often relate to the individual practitioner's interests and training, the setting in which the counselling consultation takes place, or the predominant client group. There is also no clear distinction between the terms counselling and psychotherapy. Counsellors working in particular fields (e.g. marriage guidance, addiction, sexual abuse, or health) tend to specialise in the models most used in those areas.

Across most areas of counselling, typical work activities include:

establishing a relationship of trust and respect with clients;
agreeing a counselling contract to lay down what will be covered in sessions (including confidentiality issues);
encouraging clients to talk about issues they feel they cannot normally share with others;
actively listening to client concerns and empathising with their position;
accepting without bias the issues raised by clients;
helping clients towards a deeper understanding of their concerns;
challenging any inconsistencies in what clients say or do;
helping clients to make decisions and choices regarding possible ways forward;
referring clients to other sources of help, as appropriate;
attending supervision and training courses;
undertaking personal therapy (mandatory for accreditation);
liaising, as necessary, with other agencies and individuals to help effect change based on the issues raised by clients;
keeping records.